Rindu baru ku kenal semenjak sepeninggalanmu. Bahkan setelah sekian bulan semenjak kau pergi. Aku merasa sepi yang amat runyam.

Bisa jadi, rinduku melebihi perhatianmu padaku kala itu. Kau yang terus menarik bajuku, meminta agar aku menoleh ke arahmu. Sebegitu cuek kah aku, hingga robek bajuku.

Rindu tetaplah rindu. Aku tak berani menerka-nerka untuk berjumpa dengamu. Semenjak hari kau merasa tersakiti. Selayaknya kau membenci lalu pergi. Tak cukup hati ku untuk mengemis maaf darimu. Biar daku terbaring bersama rindu. Setidaknya, kau hadir dalam benaku.

Faqih Fadul