Hey… kamu yang masih di sana. Kapan pulang? Aku sangat merindukanmu dalam pelukan hangat kasihmu. Aku menantimu, dalam rindu yang selalu terbelenggu.


Walau nyatanya, aku tak pernah tau sedikitpun kabar darimu. Aku tetap menunggu mu, walau ku merasa gusar. Tak pernah kulewatkan sedikit waktu untuk melihat seluruh akun media sosialmu. Meski kamu tak pernah muncul.

Tak seberapa gelisah hati menantimu. Karena aku tahu, bahwa Tuhan selalu ada untuk ku. Untuk hati yang talanjur gusar. Untuk cinta yang tak bertuan.

Menantimu menjadi kenangan indah yang kupaksa ku ukir dengan rapih nan rupawan. Agar aku mampu bertahan dan menikmati proses teramat panjang. Aku tak akan pernah tahu, apakah kamu akan hadir kembali, menghampirku lalu mengatakan sayang dengan penuh ketulusan. Aku tak pernah tahu.

Meski pada kenyatanya, aku tak sebegitu yakin kamu akan hadir seperti bayang yang selalu ku padatkan dalam ruang kosong pikirku. Aku akan tetap menunggumu dengan sabar dan bijak. Sabar dalam menerka rindu dan bijak ketika kau hadir bukan untuk diriku.


Fadul | 05/03/2017