Detak musik reage yang begitu kencang mengiringi alunan syahdu tangan Meli yang sembari tadi mengemas pakainya untuk pergi ke kota. Meli merasakan semangat yang begitu bergejolak di malam itu, cita-citanya kini akan segera tercapai, yaitu gadis remaja yang akan memikul nama mahasiswi. Sudah setahun lebih Meli merasakan santainya dalam hidup untuk bermalas malasan di dalam rumah semenjak Meli mencoret kaos putih abu-abunya bersama teman-temanya. Kini Meli bisa bernafas lega karena impian melanjutkan studinya akan segera tercapai.
Pagi itu paman Meli yang bertempat tinggal di kota mengampiri ke desa
untuk menyusulnya ke kota.
“Pagi Mel, sudah siap untuk berkemas ke kota?” sapa pamanya yang baru
saja turun dari mobil tua berwarna merah.
“Selalu siap paman,” Meli menenteng kedua kopernya di depan rumah sejak
tadi pagi, dan tak henti-hentinya Meli bersenyum dan berjalan kesana kemari
berharap pamanya segera datang, melihat pamanya turun dari mobil itu, meli
menjawab lontaran pertanyaanya pamanya sembari berlari dan memeluknya.
“Hei semut, sudah semakin gede aja nih.” Paman Meli sering memanggilnya
semut karna sejak kecil Meli gemar memakan permen.
“Kenapa paman masih memanggilku seperti itu, sudah lama sekali ku gak
makan gulali”
“Oh ya... berarti gulali di rumah paman bakal segera habis kamu makan,”
seketika Meli melepas pelukanya dan menatap wajah pamanya.
“Paman punya banyak gulali di rumah?” Meli menaikan alisnya dan
mencekram kuat bahu pamanya itu menggoyangkanya begitu cepat.
“Biar kuhabiskan ya paman, ya... ya...ya...!”
“Paman gak bakalan ngijinin kamu kalau kamu gak berhentiin cengkraman
ini” mata pamanya itu sayu seperti orang kejang
“Oke paman.” Meli melepas cengkramanya itu dan meloncat dan
menari-nari. Pamanya itu memegang dadanya, dan nafasnya begitu sesak, namun
Meli tidak menghiraukanya.
“Astaga Rudi kamu kenapa?” ibu Meli keluar dari pintu rumah Meli yang
terbuka sejak tadi.
“Gak papa, cuma kehausan saja” saut pamanya
Kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah kecil itu yang terhimpin
pohon bambu yang rindang dan sejuk, namun Meli tak mau masuk kedalam rumah, ia
ingin segera berangkat ke kota, Meli kemudian mengangkut kopernya masuk kedalam
mobil tua itu, kemudian duduk tepat di muka mobil tua itu, menyilangkan kedua
tanganya didada dan mengerutkan kedua alisnya.
“Mau berapa jam aku menunggu canda mereka?”
***
Hari pertama kuliah Meli mendapatkan star yang bagus untuk memulai awal
smester ini, tingkahnya yang lucu dan ramah mebuat dia mudah untuk mendapatkan
teman bahkan sahabat untuk menemaninya menghabiskan waktu dan berjuang bersama
dalam menuntut ilmu. Di suatu hari Arya dan Rani mengajak Meli pergi ke
perpustakaan daerah untuk mencari refrensi tugas kuliah yang akan segera mereka
presentasikan.
“Mel bangun Mel, buruan mandi temenin gue kepusda sekarang!” Rani
berteriak sambil memukul pintu kamar Meli. Kemudaian Meli membuka pintu, dengan
muka yang kusut dan mata yang sayu Meli menggaruk rambutnya yang begitu kusut.
“Kenapa harus gue sih... kan ada cowok lo yang setiap saat ada buat
elo”
“Arya juga ikut, dia udah duluan ke pusda, sekarang kita berdua nyusul
kesana”
“Hah... gue jadi obat nyamuk lagi nih ceritanya?” sembari menguap
“Bukan obat nyamuk, tapi bodyguard gue kalo di perjalanan ke pusda
nanti”
“Gila! seberat itu tugas gue? Mendingan lu siapain gulali yang banyak
deh buat jaga stamina gue”
“Udah gak usah cerewet buruan mandi sana” Rani mendorong Meli masuk
kedalam kamarnya. Namun Meli meronta-ronta menghentikan dorongan Rani.
“Tapi gue selesai mandi harus udah ada tuh gulali” Meli menunjuk muka
Rani dengan tatapan yang begitu tajam. Namun Rani membalasnya dengan tendangan
mendorong tepat di pinggang Meli.
“Dasar tikus imut, buruan mandi sana!”
“Aw... dasar pendekar gila!” Teriak Meli.
***
Jam mulai menunjukan 09.00 WIB namun mereka berdua tak kunjung datang,
Arya mulai bosan menunggu Meli dan Rani yang tak kunjung datang. Begitu lamnya
Arya menunggu membuat Arya memutuskan untuk segera pergi meninggalkan
perpustakaan namun setelah kaki Arya melangkah keluar mata Arya tertuju kepada
gadis keci cantik berpakaian ketat menghampirinya. Seketika Arya menelan air
liurnya yang kering dengan muka yang tegang.
“Hai kak, temanya Meli ya?” suara merdu keluar dari mulut gadis itu
“i...i...iya, ke... kena...” gugup Arya
“Tolong berikan surat ini kepadanya ya” gadis itu menyodorkan amplop
yang entah berisiakan apa. Tanpa Arya sempat mejawabnya gadis itu menjauh
darinya dan berjalan lurus dan berlenggok-lenggok indah. Seketika itu telinga
Arya mendadak panas dan perih akibat tarikan Rani.
“Jadi ini hobi baru kamu, ngeliatin cewek bohay!” mata rani tajam
seperti topeng leak.
“Bukan begitu sayang, aku cuma...”
“Udah gak usah alasan, faktanya kamu ngeliat cewek itu dengan serius”
potong Rani.
“Bukan begitu sayang...” Arya lalu mengejar Rani masuk kedalam pusda. Dan Meli hanya berdiam diri di depan pusda,
menikmati manisnya gulali di tanganya. Memandangi kedua sahabatnya pergi
bertengkar dan memandang gadis cantik misterius itu.
Didalam pusda Arya berusaha menjelaskan kejadian itu kepada Rani, namun
Rani hanya diam dan terus berjalan mencari buku yang ia cari, terkadang suara
Arya mengeras ketika Rani menjauhinya dan seketika orang yang berada di
sekeliling mereka memandang Arya dan menempelkan jari telunjuknya kemulut
mereka yang menandakan Arya untuk diam. Arya tak memperdulikan mereka dan
bergegas mendekati Rani.
“Ran, percaya lah aku gak ada maksut buta bicara atau memandanginya,
dia hanya memberikan aku amplop ini.” Arya mengeluarkan amplop di sakunya.
“Apa...? jadi kamu surat menyurat denganya? Dasar kamu gila ya, gak
ngerti perasaan ku?” rani menghujat Arya dengan nada pelan namun darah Rani
telah memuncak di ubun kepala hingga kepala itu ingin meluapkan rasa panas di
dalamnya.
“Bukan gitu Rani sayang, ini amplop suruh ngasih ke Meli” seketika
tangan Rani berhenti memilah buku dan menatap Arya dengan serius.
“Jadi itu buat rani?”
“Iya sayang, kamu sih udah berprasangka buruk”
“Salah siapa gak jelasin dari awal!”
“Kan kamu lari duluan”
“Salah siapa gak cegat aku”
“Kan kamu jalanya kecepetan”
“Jadi ini salah ku” Mata rani kembali tajam dan kedua tanganya memegang
pinggulnya
“Eng... enggak sayang, ini salah ku yang gak cekatan jelasin ke kamu”
Arya bingung memandang lantai dengan muka yang lesu. Karna jika Arya tidak
mengalah, masalah baru akan timbul.
“Bagus... bisa sadar diri, sekaranga amplopnya?”
“Tapikan ini buat Meli?” Arya mengerutkan alisnya
“Lalu gimana aku memastikan itu bukan surat citnta untukmu? Bawa sini
lemot!” Rani menyambar amplop dari tangan Arya. Rani merasakan petir menyambar
dirinya seketika itu juga, amplop itu berisi surat cinta yang tertuju kepada
Meli.
“Aku tak
akan berhenti memandangi mu
Tak kan
berhenti mencium foto mu
Bermanja
mesrah dengan mu
Di dunia
khayalku
Aku ingin
menyentuh tangan mu dengan nyata
Menggores
luka dengan kuku panjangmu
Oh...
moment yang begitu indah
Mau kah
kau mewujudkan cinta ku padamu
Bersama ku
Bersama
cinta ku
Bersama
ingin ku menjadi pendamping mu
From:
Pemuja mu”
“Mel... lo
harus liat ini!” Rani berteriak kecil dan melambaikan tanganya
“Kenapa,
perang dunia ke empat sudah berakhirya? Dan ini apa?” Meli pun membacanya
hingga gulali di tanganya jatuh ke lantai.
“Siapa yang
nulis ini?” tanya heran Meli
“Aku dapat
surat ini dari gadis tadi” jelas Arya
“jangan
jangan gadis itu Lesbian?” teriak kencang Rani
“Apa!” teriak
kencang Meli
“Haduh,
kayaknya ini hari terakhir kita menginjakan kaki di pusda” keluh Arya sembari
membuang napas
***
Mereka bertiga kembali kekosan Meli dan Rani yang tak jauh dari kampus
mereka. Hampir setiap hari Arya menghampiri kosan Rani, Arya merasa jauh lebih
baik ketika setiap saat berada di dekat Rani. Di perjalanan dekat kos Meli dan
Rani, mereka bertiga bertemu Rio teman satu kelasnya, Rio adalah atlit basket
kampus yang terkenal, memiliki postur tubuh yang tegak dan tinggi berkulit
putih dan berwajah segar, penampilanya yang maco dan tenang membuat kaum hawa
selalu terpanah melihatnya, namun tidak bagi Meli yang tak peduli dengan
penampilan cowok trend seperti Rio.
“Dari mana yo?” tanya arya kepada Rio
“Dari kampus bro, sorry gue mau ada tandingan basket” Rio gugup dan
terus berlari menjdauh mereka bertiga.
“Gak biasanya Rio gugup seperti itu” Rani rani menarik semua urat
mulutnya ke kiri dengan rasa penasaran.
“Udah lah gak usah di pikirin, sekarang pikirin dulu masalah sahabat lo
ini... gimana caranya jauh dari cewek lesbian itu!” sentak Meli
“Iya... iya Mel, Makanya penampilan lo harus di rubah jadi lebih
feminim, jangan tomboy kayak gini” ejek Rani sambil tertawa terbahak-bahak dan
Arya mengikuti tawa pacarnya itu.
Sesampainya mereka bertiga sampai di depan pintu kamar Meli, mereka
melihat amplop yang tergeletak di bawah pintu Meli. Rani terkejut karna ia yang
pertama kali melihatnya, dan menyuruh Meli membuka dan mebacanya.
“Hai Meli,
mungkin kau terkejut membaca puisi fulgar yang kuberikan kepada mu. Tapi
percaya lah aku tak sefulgar itu, aku lebih pantas menjadi siput yang pemalu.
Mengagumi tanpa kamu ketahui. Aku ingi memberi tau mu, aku sealalu memandangi
mu setiapharinya, bersantai ria sambil terpanah dengan keanggunanmu di atas
kursi ini. Namun aku selalu menikmati roda yang berputar setiap harinya. Dan
berharap suatu saat aku bisa mengatakan perasaan ku ini langsung kepada mu”
From:
pengagum mu
“Gila... pecundang banget sih orang ini, neroro muluk.” Gelisah Meli.
Arya dan Rani turut pusing kepala memikirkan masalah itu. Kemudian Rani
berinisiatif bertanya kepada tetangga kosnya
“Def... lo ngeliat orang yang kesini gak?” tanya Rani
“Tadi kayaknya ada cowok berbadan tinggi kesitu, mungkin temen elo”
Jelas Defi tetangga Meli dan Rani.
“Cowok berbadan tinggi? Gue tau siapa orangnya?” cetus Arya dengan jari
telunjuk di keningnya
“Hah... siap ya, lu tau siapa orang yang nerror gue?”
“Udah langsung datengin aja ituh orang.” Semangat Rani.
***
Siang hari di pinggir lapangan basket kampus, Rio duduk bersama teman
satu timnya yang cidra akibat pertandingan basket pekan lalu. Mereka berdua
adalah teman kecil yang memiliki hobi yang sama dan sempat menyukai wanita yang
sama, bersaing dengan sehat dan akhirnya Rio yang memenangkan persaingan itu.
“Dani, malang banget nasib elu, udah kalah saing dengan gua, sekarang
kaki lu pincang.” Rio tertawa kecil kepada temanya itu.
“Hahaha... tapi kurasa masa pahitku bakal segera berakhir, dan masa
pahitmu akan segera datang bro” celetus Dani.
“Tapi di kampus ini gue punya rekor penasib baik nomor satu... tapi
beruntung lo dan, udah gak di kursi roda lagi”
“Iya bro, lebih enak berjalan dengan tongkat daripada kursi roda”
“Hei pecundang kemari lo!!!” teriak meli dari kejauhan. Seketika Rio
dan rani menoleh terkejut melihat Meli, Rani dan Arya menghampirinya dengan
cepat. Meli mencengkram kaos Rio dan mendorongnya keatas.
“Ada apa ini?” tanya Rio panik.
“Udah ngaku aja, elo kan yang nerror gue.” Meli melempar kedua amplop
itu ke muka Rio.
“Maksud elo, atas dasar apa lo nuduh gue?” Dani merasa bingung dengan
kejadian tersebut dan tak beranjak dari tempat duduknya.
“Maaf, gue gak bermaskut ikut campur permasalahan kalian. Tapi gue gak
bisa pergi kalo gak ada yang nuntun gue.” Sela Dani.
“Jadi elo nyuruh ngelpasin temen lo ini
biar elo bisa pergi, alibi yang bagus buat nyelamatin temen elo” Meli
memandang Dani dan berkata dengan gigi depan bersentuhan.
“Jelasin dulu ada apa ini.” Teriak Rio
“Udah gak usah mengelak, gue tau elu tadi naruh surat itu di depan kamar
kos Meli, dan tetangga mereka melihat elu. Dan kemudian surat pertama sengaja
adik lu yang ngasihin itu surat ke gue.” Sahut Arya penuh dengan emosi
“Sayang kamu tau Rio punya adik dari mana?” tanya penasaran Rani
“Aku baru inget kalo temen-temen ku suka ngomongin adik Rio yang
cantik”
“Kamu juga ikut-ikutan?”
“iya” seketika Arya sadar dari perkataanya, dan menatap perlahan wajah
Rani, dengan senyuman manis.
“Hehehe, Cuma dengerin aja sayang gak ikut-ikutan”
“Jadi kamu selama ini...” dan seketika perang dunia ke empat dimulai.
Mereka berdua bertengkar dan tak memperdulikan masalah Meli dengan Rio.
“Percaya Mel, itu bukan gue” Rio berusah melepas cengkraman Meli dari
kaosnya
“Gue gak percaya, penjelasan Arya sudah meyakinkan” tatapan Meli
semakin tajam.
“Sekarang gini, lu samaain aja tulisan di buku gue sama tulisan di
surat itu.” Meli melepaskan cengkramanya tersebut dan menarik tas Rio,
membukanya dan mengacak-ngacak isi tas Rio. Lalu membuka buku tulis dan
mencocokan tulisan Rio dengan surat itu. Sangat jauh dan berbeda, tulisan Rio
yang berantakan dan hampir tak bisa di baca sangat jauh dengan tulisan di surat
itu yang jelas dan tertata rapih.
“Kalo bukan elu, siapa yang nulis surat ini?”
Penulis: Faqih Fadul


Social Plugin